Stand by...

mengenai poligami oleh feby indirani

catatan pico:

tulisan di bawah ini saya copy paste dari facebook note nya Feby Indirani setelah tentunya minta dan kemudian diberi izin. Melalui tulisan ini, saya jadi sedikit mengenal alam pikir wanita yang mengamini poligami sekaligus juga bisa membayangkan sepenggal proses yang terjadi di Darut Tauhid, yang kebetulan adalah tetangga tapi hampir tidak pernah bersentuhan. Sekali lagi, terima kasih untuk Feby yang sudah mau berbagi perspektifnya.
Tentang Feby Indirani, terlalu sedikit yang saya tahu mengenai penulis yang produktif ini. Buku terakhirnya berjudul “I can (not) hear”, bercerita tentang perjuangan sebuah pasangan untuk membuat anak mereka yang menderita tuna rungu sejak lahir hidup normal. Feby bekerja sebagai senior editor pada sebuah majalah bisnis, namun tulisan-tulisannya menunjukkan bahwa ia cukup matang menguasai berbagai perspektif hidup lebih dari sekedar bidang di mana ia berkarya sehari-harinya. Beberapa link tulisan Feby: Goodreads, Multiply, Friendster


Surga Perempuan Solehah (surat terbuka kepada teman-teman muslim khususnya kalangan pro-poligami)

Dear Akhi dan Ukhti yang dirahmati Allah,

Sebagian orang mengecam kelompok yang mengritik poligami sebagai salah satu bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Para pengecam ini, mereka yang pro-poligami, memandang bersedia dipoligami juga merupakan pilihan perempuan muslim yang harus dihargai.

Saya setuju bahwa perempuan muslim memiliki pilihan dalam Islam. Namun yang terjadi seringkali tidak sesederhana itu. Pertama, dalam menginterpretasi ayat-ayat Al Quran banyak yang berpandangan bahwa tidak semua orang bisa melakukannya. Hanya “orang-orang dengan maqam tertentu ” saja yang boleh. Kyai, ulama biasanya dianggap yang paling berhak, dan sayangnya mereka ini kebanyakan para laki-laki yang masih bias gender (seringkali karena mengacu pada pandangan kyai di masa lalu yang juga bias gender).

Artinya ‘pilihan bebas’ bagi perempuan muslimah kerap tidak sepenuhnya ada. Katakanlah begini. Bercerai itu halal dalam islam, tapi arasy Allah terguncang karenanya. Tapi bila kamu mau dipoligami maka surga imbalannya. Kalau kamu mau dipoligami, kamu akan menggapai cinta Allah. Hayo kamu, perempuan muslimah, pilih yang mana? (redaksinya tidak persis seperti itu, tapi begitulah kira-kira).

Ini pernah saya alami sendiri pada 2001 saat saya menjadi salah satu peserta pesantren mahasiswa di Darut Tauhid. Hampir dalam setiap materi meski yang tak terkait sekalipun, isu poligami selalu muncul, baik dibahas secara khusus maupun sekedar bercanda. Saat itu saya baru menyadari, betapa kampanye poligami sangat kental di sana.
Ini kampanye lho, bukan sekedar membolehkan. Artinya, pesan yang selalu didengungkan oleh semua ustad di sana (tidak hanya Aa’ Gym) adalah para ikhwan, jadilah laki-laki yang sebaik-baiknya dari segi apapun (kecerdasan, finansial dan segala sesuatunya) agar mampu menikahi lebih dari satu perempuan, dan bagi para akhwat kalau mau menjadi perempuan solehah, harus mempersilakan suaminya menikah lagi.

Intinya, kami perempuan muslimah yang saat itu menjadi santri Aa’ Gym ‘dibuat’ merasa bersalah jika tidak menerima poligami. Kami yang tidak ikhlas, kami yang tidak solehah, kami yang kurang kuat imannya dan sebagainya.. Kalau sudah begini, apakah kami bisa betul-betul bebas memilih? Siapa sih yang tidak ingin jadi perempuan solehah pemegang kunci surga?

Selesai pesantren, saya yang juga sempat tercuci otak (setuju bahwa poligini adalah jalan keluar terbaik bagi persoalan umat) akhirnya memilih : saya tidak mau menikah.

Kenapa agama yang saya peluk kemudian tak menghargai fitrah keperempuanan saya yang mendambakan kesetiaan dari pasangan? Lantas, buat apa menikah kalau sebagai perempuan solehah saya harus merelakan suami saya nantinya akan menikah lagi?

(Keputusan itu pun dalam kacamata agama, akan terbentur lagi. Jangan sampai tidak menikah, nanti tidak menjalankan separuh agama, tidak termasuk umat Nabi Muhammad dan sebagainya. )

Poligini kerap dianggap sebagai jalan keluar terbaik bagi persoalan umat dengan argumentasi :

  1. Jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki, jadi dari pada ada perempuan yang tidak menikah (yang mana itu separuh dari agama) maka para lelaki beristrilah lebih dari satu.
  2. Untuk melindungi perempuan janda atau lajang agar tidak terjerumus kepada pelacuran
  3. Laki-laki memiliki kebutuhan seks yang lebih besar dan lebih bervariasi daripada perempuan. Bagi laki-laki daripada selingkuh dan berzina lebih baik berpoligini.

Buat saya, jawaban untuk argumentasi itu adalah :

  1. Ada kecenderungan keliru dengan data statistik. data terakhir yang saya baca dari BPS menunjukkan jumlah perempuan dan laki-laki sebetulnya masih seimbang. Jumlah perempuan bisa lebih banyak juga disebabkan usia hidup perempuan lebih panjang daripada laki-laki. Artinya para lelaki maukah mengambil istri kedua, ketiga dan keempatnya janda-janda tua beranak banyak? Aa’ Gym menikahi janda, tapi toh muda dan cantik.
  2. Saya mengutip Nasaruddin Umar, poligami dan upaya mencegah pelacuran tidak berbanding lurus. Akar masalah pelacuran adalah kemiskinan, kebodohan, dan kurangnya lapangan kerja. Saya sih memang belum punya riset secara ilmiah. Tapi kenyataannya, seberapa sering sih kita mendengar lelaki mengambil istri kedua dan ketiganya dari kalangan pekerja seks komersial?
  3. Apakah pernikahan semata dipandang sebagai urusan perut ke bawah? Urusan seks semata?Kalau memang iya, saran saya lebih baik masturbasi saja. Ok lah ada yang menilai masturbasi itu dosa. Tapi menyakiti hati istri pertamanya, dosa juga kan? –persoalan pilihan dosa personal (kita dengan Tuhan)atau dosa sosial (sesama manusia)

Sebagian orang memperdebatkan masalah keadilan. Ada yang menganggap bila para istri itu merasa diperlakukan adil, kenapa kita harus meributkannya?

Dalam hal ini saya pikir Akhi dan Ukhti mungkin lebih dari faham bagaimana sebuah proses hegemoni kekuasaan bekerja. Sangat halus, tak kasat mata, dan karenanya sangat efektif. Hegemoni ini terlihat pada para istri yang dimadu dan kompak itu.

Mereka merasa apa yang terjadi kepada mereka itu ‘baik-baik saja’ sebab mereka sudah beradaptasi dengan ketidakadilan. Ini mirip dengan perbudakan. Bagaimana jaman dulu para budak itu menganggap bahwa memang sudah takdirnya menjadi budak. Maka itulah yang harus mereka jalani.

Saya hendak mengutip cerita yang dituturkan Nasaruddin Umar perihal Nabi Ayub. Saat ia sedang sakit, sekujur tubuhnya dipenuhi luka borok dipenuhi belatung dan ulat, ia diasingkan oleh semua orang, termasuk istrinya. Kemudian ia memandangi ulat yang keluar dari lukanya itu dan ia berkata, “Ulat, aku dulu jijik padamu. Tapi kini, kau satu-satunya temanku.”
Dalam hal ini Nabi Ayub akhirnya menikmati ulat-ulat yang ada di tubuhnya. Manusia adalah makhluk yang bisa menyesuaikan diri dengan apapun juga. Termasuk penderitaan. Tapi bukan berarti kita bisa mengatakan bahwa Ayub bahagia dalam ukuran masyarakat luas kan? Saya merasa perempuan-perempuan yang dipoligami dan kelihatan kompak itu juga begitu. Segala sesuatu menjadi terasa ‘baik-baik saja’ bila kita sudah terbiasa dengan hal itu, benarkan?

Bicara variasi (alasan laki-laki berpoligini atau selingkuh) perempuan sebenarnya juga butuh variasi kok. Tapi bagi perempuan, hal semacam ini kan sudah ditutup rapat-rapat dari pintu apapun. Jadi dari titik berangkatnya memang sudah tidak seimbang. Laki-laki dianggap punya pintu darurat, perempuan tidak akan pernah.

Saya rasa, seandainya dibolehkan secara norma sosial (norma agama juga berinteraksi dengan norma sosial kan..) , ada banyak perempuan yang membutuhkan lebih dari seorang laki-laki.

Tentu bicara sebuah relasi semacam pernikahan, bagi perempuan(seharusnya bagi laki-laki juga kok) tidak hanya persoalan seks saja. Si laki-laki A bisa memenuhi kebutuhan dia dalam satu hal, laki-laki B bisa memenuhi kebutuhan dia dalam hal lain lagi. Dan dia bisa mencintai keduanya dengan derajat yang setara. Contoh saja, dalam UU perkawinan, laki-laki boleh menikah lagi kalau istrinya cacat atau tidak bisa memberikan keturunan. Bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya? Si istri masih mencintai suaminya yang mandul, sekaligus ingin mengalami melahirkan?
Saya tutup surat saya ini dengan kembali menceritakan pengalaman saya di pesantren Darut Tauhid (Agustus 2001)

Suatu pagi, pada ceramah pasca sholat subuh, Aa’ Gym tiba-tiba membawa isu poligami. “Bagaimana ya, poligami itu bisa menjadi solusi bagi persoalan umat, namun memang masih banyak muslimah yang sulit menerima itu,” demikian kira-kira kalimat Aa’ yang disampaikannya dengan ekspresi cukup empatik.

Seorang teman perempuan saya berdiri dan berbicara. Ia tak setuju poligami karena, “Ayah saya berpoligami tanpa ijin Ibu saya. Dan saya tahu persis bagaimana menderitanya ibu saya.”

Dengan tenang Aa’ Gym menjawab bahwa untuk poligami memang tak perlu ijin kepada istri. Hal itu sah dilakukan dan benar di mata agama.

Ia pun bercerita bagaimana teh Nini menangis ketika Aa’ bicara tentang poligami. Teh Nini merasa sedih, kenapa ia belum juga merasa ikhlas kalau Aa’ Gym ingin berpoligami. Teh Nini merasa bersalah dengan ketakrelaannya suaminya itu menikah lagi.

Subuh itu pun jadi basah air mata dari para santri perempuan. Saya dan teman-teman saya. Kami merasa serba salah, merasa terhimpit antara ketidakiklasan berbagi cinta dan keinginan untuk menjalankan agama secara kaffah.Terus terang, ini yang membuat saya paling terganggu. Begitu banyak laki-laki lainnya yang berprofesi sebagai ulama menggunakan iming-iming surga dan cinta Ilahi. Mereka menggunakan otoritas keagamaan untuk memenuhi keinginan mereka.

Begitulah, surga para perempuan (solehah) ternyata ada di tangan laki-laki. Laki-laki yang hendak berpoligami.

salam hangat,
feby indirani,

akhirnya memilih ‘tidak solehah’

Catatan : Surat ini sebetulnya ditulis untuk Mbak Sirikit Syah dan disampaikan secara terbuka di sebuah milis. Saat itu kasus poligami Aa’Gym baru mencuat ke publik pada 2006. Belakangan saya menemukan email itu kemudian diforward di beberapa milis lainnya. Ada juga yang menaruh di blognya sebagai varian perspektif tentang poligami. Terkait maraknya club poligami saat ini, saya kembali menujukan surat ini bagi teman-teman muslim khususnya bagi mereka yang pro-poligami.

sebelum 2009 berakhir…

Setelah hampir sembilan bulan absen posting, saya coba nulis lagi di blog ini. Kalau dilihat jarak antara tanggal posting satu dengan posting yang lainnya maka akan terlihat bahwa saya adalah blogger yang males ngeblog.. Ini juga terjadi pada blog-blog saya yang lain.

Awal tahun baru 2009 saya buka bersama orang tua dan saudara di Cafe Romeo Auto Mall, Jakarta. Pada waktu itu saya tidak pernah membayangkan tahun ini adalah tahun yang buruk buat saya. Waktu itu saya berpikir bahwa tahun 2006-2008 adalah tahun-tahun terburuk saya. Sikap tidak mensyukuri itu mungkin yang membawa hawa tahun ini menjadi lebih berat.

Belum genap sebulan di 2009, saya sudah mengalami kecelakaan yang membuat saya kehilangan si hijau. Ternyata bukan hanya itu “kehilangan” itu saja yang saya alami, beberapa kehilangan lagi saya alami hampir mewarnai seluruh 2009. Kurang lebih list kehilangan sepanjang tahun 2009 seperti di bawah ini (materi):

  • si hijau
  • dompet 2 kali kehilangan: ktp, npwp, atm dan lainnya..
  • ipod 2 kali kehilangan
  • hp 2 kali kehilangan
  • passport
  • data di powerbook: kerjaan, personal things, lagu dan lainnya
  • hard disk beserta data nya sebesar 1 TB yg isinya kerjaan dari th 2003 dll (termasuk data titipan orang).
  • beberapa ribu email kerjaan dan personal
  • dll

Proses kehilangan itu beda-beda.. syukurnya saya dapat bantuan dari orang-orang dekat untuk recover itu semua.

Selain kehilangan materi, secara pribadi saya merasakan penurunan drastis di banyak hal termasuk bisnis, relationship, dan lainnya. Saya juga melakukan beberapa hal ekstrim yang belum pernah saya lakukan sebelumnya seumur hidup. Salah satunya adalah secara terbuka melakukan penghinaan dan merusak nama baik orang lain dan saya sendiri secara sadar. Tidak perlulah saya kasih tau alasan dari kelakuan itu, saya pun sangat menyesal karenanya dan saya berjanji untuk tidak akan pernah lagi membiarkan kondisi seperti itu terjadi lagi. At all cost.

Tahun ini ga ada perjalanan jauh, hanya beberapa perjalanan ke Solo dan Bali. Setelah hampir sebulan di Bali, tujuan Bali akan menjadi agenda rutin dari perjalanan saya karena saya men-setup sebuah bisnis di sana bersama seorang partner. Perubahan yang pasti lagi adalah sejak November 2009, saya berdomisili di Bandung untuk pekerjaan dan semangat baru.

Itu mengenai saya pribadi di 2009. Bagaimana dengan hal-hal lain? Agak repot ketika saya harus mengingat hal-hal lain yang terjadi di 2009, karena saya sepertinya tidak hidup di tahun 2009 ini.. Meskipun ada Pemilu Legislatif dan Pemilu Eksekutif, Michael Jackson meninggal, dan apa lagi yah? Susah inget…

Pastinya saya juga berharap yang terbaik untuk tahun 2010, saya yakin anda juga demikian. Mungkin anda punya cerita di tahun 2009 dan mau berbagi? Please trackback..

Salam untuk 2009 di bawah ini pas buat saya.. Selamat Tahun Baru! :)

twitter - derrick

sedikit mengenai prabowo subianto

Pada hari Selasa, 31 Maret 2009 yang lalu, saya berkesempatan mengikuti acara ngariung bersama Prabowo Subianto. Acara yang diadakan oleh network pendukung Prabowo for President (RI) tersebut secara khusus mengundang masyarakat online Indonesia antara lain pendukung Prabowo di Facebook, warga Kompasiana dan para blogger. Saya sendiri masuk sebagai blogger meskipun sebenarnya Heriyadi yang telah berbaik hati mengundang untuk hadir pada acara ini.

Sejujurnya saya tidak begitu mengenal benar orang ini, kecuali seperti yang sudah diketahui oleh masyarakat umum, seperti bahwa beliau adalah anak dari prof. Soemitro, pernah menjadi menantu Pak Harto, menjadi salah satu tentara yang melewati jenjang karirnya dengan sangat cepat dan pernah menjadi komandan kopasus yang kemudian dilanjutkan menjadi Panglima Kostrad. 

Yang membuat saya tertarik pada figur ini adalah iklan ajakan untuk membeli produk nasional dengan harapan dapat mensejahterakan petani Indonesia, yang juga merupakan iklan ajakan untuk bergabung dengan partai Gerindra. Ajakan yang pertama jelas merupakan pencerahan karena masyarakat luas banyak yang belum memahami bahwa harga sembako murah dapat mengancam kehidupan petani, dan sosialisasi pesan ini seharusnya sudah dilakukan pemerintah sejak jaman Suharto.

Mengenai acara tersebut, saya sebenarnya juga tidak berharap banyak karena saya tahu Prabowo pasti kelelahan setelah berkampanye seharian ditambah dengan hujan besar dan macet (hari itu Gerindra mendapat giliran kampanye akbar di Senayan). Beberapa peristiwa yang agak mengganggu membuat hadirin agak jengah (turn off). Liputan acara tersebut dapat dilihat pada blog para blogger ternama yang juga hadir pada kesempatan itu: 

≈≈≈

Berbagai pemberitaan negatif mengenai Prabowo sepertinya sudah cukup tertanam di benak masyarakat, sehingga untuk memperbaikinya Prabowo harus bekerja ekstra. Setidaknya ada dua peristiwa di mana Prabowo mendapat nama jeleknya, yaitu: Pertama, terkait dalam penculikan aktivis reformasi (antara lain Pius Lustrilanang, Haryanto Taslam dll). Mengenai keterkaitan ini Prabowo pernah mengakui keterlibatannya serta telah dikonfirmasi juga oleh para korbannya.

Kedua, Prabowo dituduh hendak melakukan kudeta pada pertengahan Mei 1998, sesaat setelah Soeharto mengundurkan diri dari jabatan kepresidenan. Mengenai hal tersebut, Prabowo menolak tuduhan tersebut dan dikonfirmasi oleh Sintong Panjaitan dalam otobiografinya, di mana pada saat itu yang bersangkutan menjabat sebagai Penasehat Militer Presiden. Buku Sintong tersebut mengisahkan betapa besar power yang dimiliki oleh Prabowo dalam lingkungan TNI dan istana, sehingga beliau dapat mempengaruhi berbagai kebijakan keamanan. Sintong juga mengisahkan bahwa saat itu Prabowo direkomendasikan oleh Jenderal Purn. AH Nasution untuk menjadi KSAD. Rekomendasi tersebut tidak pernah dilaksanakan oleh Habibie (presiden), bahkan Habibie meminta Wiranto untuk memutasikan Prabowo dari jabatannya sebagai Panglima Kostrad. Fakta lain yang terkait adalah, Prabowo tidak melakukan gerakan ke arah kudeta kecuali mendatangkan pasukan Kostrad dari daerah ke Jakarta untuk memperkuat pengamanan pasca kerusuhan dan pergantian Presiden. Hal ini juga dikonfirmasi langsung oleh yang bersangkutan pada acara “temu Prabowo dengan Blogger”.

Sepertinya kesimpang-siuran informasi telah menjadi gosip yang dilahap mentah-mentah oleh media. Dramatisasi terjadi dibalik pemberitaan dan gosip terus berkembang sehingga masyarakat yakin bahwa faktanya memang demikian. 

Dari otobiografi Sintong, bisa diambil kesimpulan bahwa Sintong Panjaitan adalah seorang tentara profesional dengan pribadi yang mempunyai integritas tinggi, sehingga kesaksiannya mengenai peristiwa Mei 1998 sangat dapat dijadikan acuan terhadap fakta. 

≈≈≈

Walaupun pada acara temu Prabowo dengan blogger tersebut saya kebagian satu bukunya, saya belum sempat membacanya. Ketika saya sampai di rumah, ternyata ada Papa yang malam itu menginap di rumah karena esoknya ada sebuah acara yang harus ia hadiri dan buku itu ia sita untuk ia baca sekembalinya ia ke Bandung. Untungnya saya masih mendapat sekilas uraian dari Heriyadi mengenai isi buku tersebut yang utamanya adalah mengenai pengungkapan fakta ekonomi bahwa Indonesia mengalami defisit triliunan rupiah sertiap tahunnya dan mengenai ide untuk re-valuasi, revitalisasi kekayaan alam Indonesia sehingga mendapat posisi yang lebih baik dalam perekonomian dunia.

Dalam acara temu blogger tersebut, Prabowo mengungkapkan dengan gamblang temuan, ide, dan semangatnya untuk memperbaiki kondisi keterpurukan ini. Beliau menggunakan berbagai ilustrasi untuk menggambarkan keterpurukan, juga berbagai ilustrasi untuk menggambarkan fisibilitas dari gagasannya. Hal yang mengganjal dari ilustrasi-ilustrasi tersebut adalah setiap kali beliau menyebut kejayaan Indonesia selalu yang berkaitan dengan kekayaan alam dan budaya. Namun bila menyebut mengenai inovasi, inspirasi, dan hal lain yang berkaitan dengan keahlian-keterampilan manusia, beliau selalu menyebut nama institusi atau orang asing, Harvard, Lee Kuan Yew, dan lain-lain. Sebaliknya ilustrasi mengenai orang Indonesia atau rakyat adalah gambaran mengenai kesengsaraan dan kebodohan.

Agak mengkhawatirkan bila kita berkesimpulan dari acara temu blogger tersebut, di mana beliau seperti tidak mempunyai kepercayaan terhadap bangsa sendiri. Menurut beberapa teman, tim komunikasi yang bertanggung jawab terhadap kesuksesan pencitraan Prabowo pun juga ber-merk asing. 

Di luar kecurigaan tersebut, saya merasa bahwa Prabowo dengan pengalaman panjangnya sebagai militer dan pengusaha telah membentuk karakter yang kuat dan berintegritas. Ambisius adalah sifat yang dibaca oleh masyarakat dan diakuinya secara jujur.  

≈≈≈

Harus diakui strategi komunikasi yang dirancang sangatlah baik, dapat dilihat dari hasil yang sangat lumayan untuk sebuah partai yang baru terbit. Selain iklan di TV yang boleh dibilang juara (dibanding kontestan lain), Prabowo dan partainya juga mempunyai website yang mungkin terbaik juga di antara kontestan lain. 

Demikianlah sedikit mengenai Prabowo Subianto.

 

Update – 24 Mei 2009: Prabowo telah resmi menjadi calon wakil presiden dari ketua PDI perjuangan, Megawati Sukarnoputri. Pasangan inipun juga membangun komunikasi melalui Twitter dengan id @megabowo.

kecelakaan – farewell to si hijau

Bandung,pagi hari tanggal 15 Januari itu saya terlambat bangun. Rencana bangun jam 5 ternyata malah molor hingga jam 7. Dari rencana yang tidur hanya satu setengah jam saja jadi kepanjangan sampai 3 jam. Iya memang saya baru tidur jam 03.30.

Karena saya sudah berjanji dengan Cecep dan Pak Ahmad utnuk melakukan briefing di Pasar Minggu jam 10.00 maka saya harus segera berangkat ke Jakarta. Setelah ngopi dan mandi, saya langsung bergegas berangkat. Waktu menunjukkan pukul 08.15 ketika saya berpamitan pada Papa dan Mama. Mampir sebentar ke ATM dan Pom Bensin, saya tiba di pintu tol pasteur sekitar pukul 08.40.

Cuaca memang tidak bersahabat pada pagi itu, hujan turun memang tidak terlalu deras tapi cukup untuk membuat genangan-genangan air yang membuat mobil dapat slip. Saya berusaha untuk konsentrasi penuh, dan saya yakin pada waktu itu saya tidak mengantuk sama sekali.

Teringat oleh saya, pernah pada suatu hari saya kebut-kebutan dengan seekor Mitshubishi Galant V6 di Cipularang dengan kondisi yang sama, yaitu hujan. pada waktu itu saya memenangkan balapan liar tersebut pada kecepatan di atas 200 km/jam. Saya yakin waktu itu yang membuat galant agak keder pada kecepatan tersebut adalah handling yang agak merepotkan ketika harus melewati genangan air.

Hujan memang tidak sederas pada saat saya balapan dengan Mitsubishi Galant, tetapi kondisi jalanan sepertinya sama, yaitu banyak genangan air. Mungkin dari hujan malam sebelumnya. Kepadatan jalan pun terbilang jauh dari kondisi padat atau macet. Saya hampir tidak menggunakan bahu jalan sama sekali untuk mendahului karena hampir selalu tersedia jalur kanan utnuk mendahului.

Memasuki kilometer 80-an saya melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 08.55. Dalam hati saya berpikir bahwa akan tiba di Pasar Minggu lebih awal daripada Ahmadi ataupun Cecep, apalagi dengan kondisi jalan yang agak kosong. Meskipun demikian saya mencoba menahan diri untuk tidak mematok kecepatan maksimum pagi itu di 200 km/jam dan tidak lebih. Saat itu kecepatan rata-rata antara 160 – 180 km/jam.

Tiba-tiba di jalan yang relatif lurus dan kosong tersebut (hanya ada satu mobil di depan saya), mobil selip ke arah kanan. Saya mencoba mengendalikan secepat mungkin dan menginjak rem sedalam mungkin (ABS), tapi mobil sepertinya berputar kencang sekali. Yang terlintas dalam pikiran saya saat itu adalah bagaimana caranya saya tidak menabrak mobil di depan saya… dan sepertinya setelah itu saya tidak sadarkan diri.

Ketika saya sadar 100%, saya mendapati diri saya sudah berbaring di sebuah instalasi gawat darurat sebuah rumah sakit berjudul RS Efarinna Etaham Purwakarta. Semenit kemudian, Erick, adik saya, yang ternyata sudah berada di RS sejak saya belum sadar mengacungkan Blackberrynya ke muka saya untuk mengambil foto saya.

Iya reflek saya langsung senyum. Nggak kelihatan di foto kalau di keliling kepala saya banyak lecet dan memar.

Tak lama setelah itu saya juga melihat Papa, Mama, dan juga Ratih, sepupu saya yang saya tidak tahu kapan mereka tiba. Setelah melalui pemeriksaan CitiScan (bener ga?) dan pengurusan administrasi, saya dipersilahkan untuk meninggalkan rumah sakit. Saya sebenarnya berminat untuk ikut Erick kembali ke Jakarta, tapi Papa menyuruh saya beristirahat dulu di Bandung hingga pulih.

Kami kemudian singgah makan di sebuah RS di Purwakarta dan langsung menengok si Hijau yang sudah di derek dan diparkir di halaman kantor PJR Sadang. Lemes saya melihat si hijau yang sudah tidak berbentuk.

Saat itu juga saya berpikir bahwa telah kehilangan si Hijau, karena untuk memperbaikinya dipastikan akan membutuhkan biaya yang sangat banyak dan kesabaran yang sangat tinggi. Jadi selamat jalan dech my lovely Audi..

Sekitar dua minggu kemudian saya menengok lagi Si Hijau yang ternyata sudah dipindahkan ke kantor PJR Purwakarta. Sekalian saya juga menengok TKP yaitu di km 71,6 di jalur Bandung-Jakarta. Setelah mempelajari fakta-fakta yang ada, saya menyimpulkan bahwa kecelakaan disebabkan oleh pecah ban atau selip. Kemungkinan pertama scorenya lebih besar karena ban kanan depan pecah dan habis, yang tersisa hanyalah velg saja. Mengenai prosesnya, dilihat dari kerusakan si Hijau dan bekas-bekas TKP, maka dapat disimpulkan selain berputar horizontal, mobil sempat terbang dan salto, kemudian mendarat dengan pantat dulu, baru dilanjutkan dengan salto darat hingga berhenti terlentang (sesuai penuturan petugas PJR).

Beberapa orang berpendapat bahwa saya terselamatkan karena saya menggunakan Audi yang terkenal dengan safety standardnya. Setelah saya melihat sendiri kerusakan yang terjadi, saya berkesimpulan bahwa malaikatpun sangat berperan menyelamatkan saya, karena bagian atap pun yang berjarak hanya beberapa senti dari kepala saya (bila di belakang setir) hancur hingga ke masuk ke dalam. Namun harus diakui struktur rangka dan Body Audi sangat baik sehingga meskipun jungkir balik kedua sisi relatif hanya bengkok sedikit. Saya sangat bersyukur.

Hasil dari kecelakaan tersebut adalah otot leher yang kaku, kedua bahu nyeri bila memutar lengan, dan tiga jahitan di punggung kaki kiri. Selebihnya hanya lecet dan memar ringan di kepala.

Beberapa posting saya mengenai si Hijau:

Gambar lengkap si Hijau yang rusak dapat dilihat di sini

Saya ingat pada saat setengah sadar saya meminta perawat untuk mengganti baju saya yang basah kuyup oleh bensin (panas), kemudian memberi tahu nomor telepon rumah di Bandung, dan mempersilahkan perawat menjahit sobek di punggung kaki kiri saya. Yang saya tidak ingat adalah ketika saya dikeluarkan dari mobil, para petugas yang menolong mengatakan bahwa saya berdiri dan berjalan sendiri ke mobil ambulans.

Yeap saya sangat bersyukur masih dikasih hidup dan sepertinya peristiwa ini adalah peringatan buat saya. Tentunya bukan untuk berhenti ngebut… :D

menjadi kepala suku (seperti don)

Semalam sebelum pertemuan keluarga besar dari Eyang Buyut, saya masih meraba-raba motivasi dari masing-masing keluarga untuk berkumpul di Bandung. Memperhatikan antusiasme yang begitu besar dari berbagai generasi di keluarga besar tersebut membuat saya berpikir bahwa motivasi mungkin beragam. Ada sekitar 180-an orang yang menyatakan akan hadir dari sepuluh keluarga besar. Saya membayangkan pertemuan keluarga yang sebagian tidak saling kenal tersebut bagaikan pertemuan para keluarga Sisilia dalam film Godfather atau film mengenai Lucky Luciano (lupa judulnya).

Pertemuan dua hari itupun akhirnya mencatat lebih dari 200 manusia yang hadir, terdiri dari beberapa generasi (baik secara tingkatan dalam keluarga maupun secara umur). Seperti yang sudah saya bayangkan, ternyata motivasi untuk berkumpul tersebut didominasi oleh generasi ke-dua (secara tingkatan keluarga adalah cucu dari buyut saya), kemudian secara umurpun motivasi juga terlihat dari generasi berumur 45 tahun ke atas. Motivasi utama adalah mempererat tali silaturahmi sekaligus juga reuni karena umumnya mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Sedangkan generasi di bawahnya terlihat bermotivasi untuk ingin tahu, ingin kenal dan seterusnya..

Yang unik pada acara tersebut adalah pada akhirnya semua bersepakat untuk melanggengkan paguyuban kekeluargaan ini dengan tujuan utama untuk mempererat tali silaturahmi. Meskipun tidak terucap secara eksplisit, tampaknya harapan untuk terjadinya organisasi modern untuk menampung aspirasi dan melaksanakannya muncul dalam kepala-kepala peserta yang hadir tersebut. Betul, potensi sudah terlihat dan rasionalitas dari hadirin sudah bekerja..

Bagian yang mirip dengan film Godfather itu adalah ketika masing-masing keluarga besar melalui perwakilannya menyatakan persetujuannya terhadap kepemimpinan saya sebagai pengurus Ikatan Keluarga tersebut… Mereka satu per satu berdiri dan menyatakan dukungannya atau pernyataan ketidak beratan dengan keputusan. Saya pikir ini seperti sudah bukan keluarga Jawa lagi.. tapi ya mungkin semuanya sudah berubah…

Masih ada dewan pengarah yang akan dibentuk untuk memberikan arahan kepada pengurus. Juga komisariat yang menjadi wakil pengurus di masing-masing keluarga besar.

Pertemuan yang tidak direncanakan serius itu dapat dikatakan sukses secara umum, baik dari sisi jumlah peserta, ketepatan waktu penyelenggaraan, akomodasi dan transportasi, dan acara.. meskipun tidak ada panitia khusus untuk acara tersebut.. Hanya ada beberapa orang dengan tekad dan jiwa besar untuk mewujudkannya.

Pada malam hari setelah acara selesai, Erick, adik saya bertanya, “gimana rasanya sudah jadi Don?”. Saya masih merenung.. sepertinya aspirasi yang belum diungkapkan masih banyak dan terus dibangun…

jalan-jalan akhir tahun 2008 (bag. ke I)

Setelah tertunda 2 hari dan dengan terpaksa harus menerima hangusnya tiket pesawat, akhirnya pada tgl 2 Desember saya berangkat ke Kuala Lumpur untuk memulai petualangan pendek mengunjungi negara-negara tetangga (Asia Tenggara). Proses keberangkatan itu sendiri cukup kisruh karena memang sebelumnya kita sudah menjadwalkan tapi sekonyong-konyong pekerjaan menuntut kita untuk menunda, tentunya makin kisruh karena kebiasaan saya mengerjakan segala sesuatunya pada last minute.

Rekan petualangan kali ini adalah Boyan yang dengan baik hati membangun rencana termasuk jadwal dan mengatur seluruh prosesnya dengan rapi termasuk urusan dana (saya tidak perlu nabung :p). Base yang kita pilih adalah Kuala Lumpur, selain karena Air Asia berpusat di sana juga karena ada seorang teman baik yang tinggal di sana di mana kami juga merencanakan untuk menghabiskan banyak waktu bersamanya. Tapi rencana ini berubah karena penundaan keberangkatan dan sesuatu hal yang membuat mood saya berubah drastis. Kami hanya tinggal satu malam di Kuala Lumpur dan langsung menlanjutkan perjalanan ke Haad Yai (Hat Yai), Thailand.

Sesuai dengan rencana, kami lebih banyak menggunakan fasilitas transportasi darat agar lebih banyak bisa menikmati perjalanan dan berinteraksi dengan warga lokal. Perjalanan ke KL – Hat Yai kami tempuh menggunakan bis yang relatif nyaman (meskipun Boyan merasa sebaliknya) selama 11 jam. Berhenti makan sekali di dekat perbatasan Malaysia – Thailand, kami juga menemukan warung Indonesia (muslim) di sana.

Tiba di Hat Yai pada pagi hari, kami memutuskan untuk langsung pesan tiket bis ke Bangkok pada sore harinya. Seharian kami habiskan untuk berjalan-jalan di kota tersebut sambil mampir sedikit ke warnet dan makan siang. Kota ini sebenarnya cukup menarik untuk disinggahi. Andaikata kita mengalokasikan lebih banyak waktu, saya pasti akan bermalam dan menghabiskan lebih banyak waktu di kota ini. Keunikan kota ini antara lain desbabkan terjadinya pembauran beberapa budaya sekaligus, yaitu budaya Muslim, Buddha dan tradisional Thailand. Tapi yang paling berkesan buat saya adalah berkeliarannya angkutan umum yang dipanggil dengan istilah Tuk-Tuk. Armada ini bukan seperti rickshaw atau Tuk-Tuk di tempat lain karena Tuk-Tuk yang ini rata-rata menggunakan mobil tahun 70-an dengan berbagai merk, kalau di Indonesia mereka terkenal dengan istilah Trungtung.. Hebatnya armada ini adalah hampir semuanya terawat baik, jadi tidak menghasilkan polusi gila-gilaan (padahal kendaraan tua) dan cantik (antik) karena bersih-bersih semua.

Tuk Tuk

Kami berangkat ke Bangkok sekitar jam 3 siang, menggunakan bis yang ternyata biasa-biasa saja setelah sebelumnya kami berharap mendapat bis yang bagus. Ga jelek banget, ada AC tapi agak bau dan disetel video lagu-lagu Thailand yang susah untuk kami nikmati. Sepanjang jalan kami melihat banyak sekali poster dan baliho yang banyak menampilkan gambar Raja. Akhirnya kami paham, ternyata poster-poster tersebut ada dalam rangka memperingati ulang tahun raja Thailand.

bersambung…

note: sebenarnya tulisan ini dibuat pada bln Maret tgl 7, jauh setelah jalan-jalan akhir tahun itu sendiri.. Saya sepertinya juga sudah banyak lupa, termasuk gaya penulisan saya sendiri. :p