Stand by...

kerennya pribadi bangsaku

Lucunya para pengamat politik, politisi, pakar ekonomi dan para pakar-pakar sosial lain di Indonesia sekarang, selalu menjadikan referensi asing sebagai argumen dasar dari diskusi atau perdebatan mengenai apa yang baik untuk Indonesia tanpa mempelajari lebih dalam mengenai apa-apa tentang Indonesia itu sendiri. Seolah-olah pengetahuan mereka itu absolut keren dan benar hanya karena diperoleh dari sekolah-sekolah bergengsi di luar negeri atau buku-buku pujangga  asing. Padahal tersirat dalam pribadi bangsaku, bahwa untuk memulai semuanya diperlukan kerendahan hati dengan percaya diri penuh.

Coba lihat gambaran ‘adil makmur sentosa’ dalam video “Kerennya Pribadi Bangsaku” oleh Komuniaksi.  Perlukah kita mati-matian membahas liberalisme vs komunisme, atau sosialismenya eropa vs sosialismenya chavez? Perlukah kita meyakini bahwa bila bank-bank besar Indonesia kolaps, rakyat Indonesia akan kesulitan makan? Silakan disimak, Pancasila sebagai manual bangsa..

saya berpolitik

Sekitar akhir Januari 2010 yang lalu saya membuat account @d3to yang sengaja mem-follow beberapa politisi dan tokoh di twitter untuk mempelajari proses politik yang sedang berlangsung waktu itu. Saat itu yang sedang ramai dibicarakan adalah proses sidang dan pemeriksaan oleh Pansus Bank Century DPR. Begitu serunya topik tersebut hingga berbagai opini bisa didengar langsung dari berbagai obrolan masyarakat. Saya sedikit merekam berbagai opini mengenai drama bank century itu di sebuah posting di blog ini.

Sejak saat itulah saya mulai larut dengan account @d3to dan mulai rajin mengikuti berbagai berita politik. Pada tulisan ini, saya mencoba berbagi sedikit dari pengalaman dan pemahaman saya mengenai politik Indonesia.

Lewat account @d3to itulah saya berkenalan dengan banyak aktivis dan terlibat dalam beberapa kegiatan yang bahas dengan politik. Saat aktif di acara @forumwiken bersama @quicchote, @budimandjatmiko, @dapih, @alfiansibarani, dan @enda_la, seringkali diskusi diakhiri dengan bahasan-bahasan politik. Begitu juga ketika hadir pada acaranya @savejkt, bahasan politik juga menjadi agenda menarik dalam diskusi. Dari diskusi-diskusi seperti ini dan ditambah googling sana-sinilah saya menyadari bahwa proses politik Indonesia oleh para politisinya sangatlah nyasar menjauh dari hakikat negara-bangsa Indonesia.

Walaupun sudah aktif berinteraksi dengan para politisi dan juga membahas isu-isu politik melalui twitter ataupun pada diskusi-diskusi, saya merasa bahwa untuk mewujudkan perubahan yang signifikan perlu keterlibatan yang lebih aktif lagi. Mulailah saya menyusun strategi untuk keterlibatan ini.

Indomaritimnomics

Pilihan untuk berpolitik di bidang maritim saya anggap strategis karena potensi yang begitu besar dan begitu diabaikan oleh segenap bangsa pemiliknya, sehingga pemanfaatannya (eksploitasinya) justru dilakukan oleh bangsa asing dan dipergunakan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan bangsa asing tersebut. Saya sebenarnya sudah memulainya sejak tahun 2007 dengan Indonesia Maritime Club, namun kali ini saya ingin memperdalam dengan kekuatan riset. Riset yang saya anggap cukup strategis adalah riset mengenai transportasi laut, dengan perhatian utama pelayaran, pelabuhan dan industri perkapalan.

Jelas saya memilih memposisikan diri sebagai produsen isu ketimbang sebagai politisi yang berjuang melalui parpol dan organisasi lainnya. Saya berharap dapat memberi asupan yang lebih berkualitas kepada para politisi yang berkualitas juga.

Semangat Baru Jakarta

Bermula dari candaan @enda_la agar @imamrasyidi mencalonkan dirinya untuk menjadi gubernur DKI pada pemilukada 2012, yang kemudian ditanggapi serius oleh yang bersangkutan setelah berkonsultasi dengan beberapa kerabat dekatnya. Saya dan @dapih diundang pada pertemuan-pertemuan awal untuk ikut mendukung proses ini.

Yang paling menarik untuk bergabung dalam gerombolan ini adalah kami semua menyepakati beberapa hal penting, diantaranya adalah asumsi bahwa sistem politik yang berlaku saat ini sangatlah diwarnai dengan perilaku politik transaksional-materialistis, asumsi bahwa mayoritas partai politik tidak mempunyai basis massa (DKI) yang solid sehingga menjadi penjelasan terhadap klaim-klaim manipulatif, kenyataan bahwa sistem yang berlaku adalah sistem politik elitis di mana pembentukkan fokus media sangat diarahkan pada perilaku elit-elitnya (lebih sedikit mengenai masyarakat), asumsi bahwa kelas menengah di ibukota ini lebih menjadi agen-agen nilai pasar bebas ketimbang menjadi artikulator aspirasi masyarakat, dan berbagai asumsi lainnya yang menyebabkan panggung politik kita lebih memprioritaskan popularitas ketimbang kerja nyata, lebih memprioritaskan kepentingan kelompok dibanding kepentingan bersama yang lebih besar, mengabaikan kebutuhan perencanaan jangka panjang (termasuk konsekuensi jangka panjang), dan seabrek perilaku non-negarawan lainnya.

Kami juga menyepakati hal-hal ideal seperti menyentuh langsung masyarakat haruslah dengan tindakan nyata, bahwa kesadaran masyarakat haruslah dibangkitkan untuk kepentingan bersama, dan lain-lain. Lebih jauh mengenai berbagai pemikiran ini akan saya tuliskan dalam posting terpisah.

Menyadari keterbatasan dalam hal sumberdaya, jaringan, finansial  dan skill, @imamrasyidi pun akhirnya mengundurkan diri meskipun kami tetap akan melaksanakan berbagai agenda gerakan Semangat Baru Jakarta. Pengalaman pencalonan ini setidaknya telah membuat kami berguru pada mantan politisi senior Bapak Sarwono Kusumaatmaja, juga mendapatkan dukungan dari tokoh seperti Deddy Mizwar dan bertemu dengan beberapa kandidat gubernur DKI lainnya.

Refleksi: sinisme apolitis terhadap pelaku politik

Entah sejak kapan di lingkungan pertemanan saya cenderung mengasosiasikan kegiatan berpolitik sebagai kegiatan yang berkonotasi negatif. Mungkin sejak kecil, orang tua kita mengharuskan kita untuk menjiwai trauma terhadap peristiwa yang berkaitan dengan politik. Mungkin juga karena kegiatan berpolitik bukanlah kegiatan yang menghasilkan uang kecuali bila sukses menjadi pejabat publik atau wakil rakyat yang mendapat gaji, sehingga tumbuh prasangka bahwa politisi gagal cenderung menjadi kere.. dan pada masyarakat kapitalistik ini, ke-kere-an adalah sebuah penyakit, gejala parasitisme yang harus dijauhi.. Sebaliknya, bila sang politisi sukses dan makmur, maka ia cenderung digosipkan sebagai koruptor atau dicurigai sering menyalahgunakan wewenang dan kepercayaan masyarakat.

Tak perlu mencari contoh dari politisi ngetop mengenai prasangka di atas.. Ketika saya sampaikan pada seorang teman bahwa saat ini mulai menekuni politik, maka tanggapan spontan dia adalah mengeluarkan nyinyiran, “kalau baru mulai, pasti idealis deh.. tunggu nanti kalau sudah kena duit baru lupa sama idealisme..”

Saat itu, buat saya, kalimat nyinyir itu sudah cukup bikin bete berat. Betapa tidak? Terlepas dari baik/buruknya hasil yang akan dicapai, kerja sukarela yang menghabiskan waktu, energi dan biaya untuk kepentingan masyarakat harusnya mendapat apresiasi, setidaknya apresiasi terhadap niatan baik.

Sistem Politik Indonesia

Secara sederhana saya melihat bahwa sistem politik Indonesia terdiri dari dua layer, yang masing-masing merupakan sistem politik yang berdiri sendiri. Layer atas adalah sistem politik elit dan layer bawah adalah sistem politik Indonesia. Antara kedua sistem tersebut ada jarak (cukup panjang) yang bukan kosong absolut, namun ada beberapa titik-titik yang menjadi penghubung. Kecuali pada Pemilu dan program pemerintah, hubungan antar keduanya cenderung satu arah, yaitu dari layer atas ke layer bawah dengan pola eksploitatif, manipulatif dan koruptif. Media pun lebih suka menyorot drama pada sistem politik elit ketimbang dinamika pada sistem politik Indonesia. Para ahli sosial-politik  dan ahli statistik pun cenderung menikmati kondisi ‘fokus pada sistem politik elit’ ini untuk memperkuat basis ekonomi dan status mereka sendiri.

Pola interaksi antar pelaku pada sistem politik elit adalah transaksional murni, dengan sebagai komoditi adalah segala sesuatu yang dapat di-klaim dari elemen sistem politik Indonesia. Referensi nilai utama adalah nilai-nilai pasar universal seperti pola permintaan-penawaran dan teori-teori pasar lainnya. Referensi untuk pengejawantahan nilai-nilai tersebut adalah sejarah pengalaman implementasi negara-negara lain (utamanya Amerika, dan beberapa negara maju lainnya). Pada sistem politik elit ini, Pancasila dan UUD’45 hanyalah dijadikan hiasan dan bukan sesuatu yang dapat berfungsi optimal, sebaliknya hal-hal ideal apapun dari negeri lain diyakini dapat membawa Indonesia pada situasi yang lebih baik, setidaknya dapat memperkuat argumennya dalam bertransaksi ataupun dalam menggalang dukungan.

Pada sistem politik Indonesia atau layer bawah yang jauh lebih massive dibanding layer atas, pola interaksi dilandasi kepentingan bersama dan tidak selalu murni transaksional. Gotong-royong dan nilai-nilai luhur tradisi sangatlah mewarnai interaksi antar mereka. Sistem politik Indonesia adalah proses politik rakyat Indonesia yang sesungguhnya. Sistem yang terbentuk dari berbagai pengalaman sejarah ratusan tahun yang bersenyawa dengan pemahaman terhadap nilai-nilai kontemporer. Layer bawah ini cenderung invisible di mata media apalagi pengamat politik, sehingga untuk mengamatinya perlu terjun langsung dalam keseharian aktivitas masyarakat. Walaupun demikian, secuil data mereka dari ahli statistik dan pengamat politik tetaplah dapat dieksploitasi dan dimanipulasi untuk kepentingan tertentu.

Closing

Gambaran sederhana di atas mungkin sangat jauh dari lengkap dan intuitif. Saya sendiri perlu mendalami lebih lanjut dengan bergaul lebih dengan masyarakat luas untuk mengkonfirmasi/mengkoreksinya. Kira-kira demikianlah catatan saya berpolitik.

selamat jalan mas mus.. sedikit tentang ardy muswardi

Kira-kira bulan September atau Oktober tahun 1999, @boyan mampir ke Ampera (warung thinkelel) bersama seorang temannya yang juga seorang arsitek, untuk menawarkan jasa mereka mendesain ulang outlet warung yang saya kelola. Temannya yang ternyata juga seorang penggiat web tersebut bernama Ardy. Saat itulah pertama saya berkenalan dengan @muswardi yang kemudian menjadi sahabat karib saya selama lebih dari satu dekade hingga akhirnya dia mendahului berpulang kepada Sang Pencipta kemarin sore. Posting ini adalah sedikit corat-coret saya untuk mengenang almarhum..

BatCave

Disebut BatCave karena ruang kerja saya pada waktu itu kedap suara dan tidak berjendela sehingga bila kita larut dengan kesibukan hingga tidak melihat jam, kita akan sulit membedakan siang atau malam. Pada awal karirnya sebagai web designer, Ardy sering menginap di BatCave untuk browsing berbagai referensi atau download freebies dari internet. Puncak suksesnya yang membuat warga BatCave lain bangga waktu itu adalah menjadi salah satu pemenang Bubu Award Web Design. Kami sangat bersukacita dengan keberhasilan Ardy tersebut.. 

Walaupun setelah pekerjaan nya mengurangi intensitas nongkrong di batcave, Ardy tetap memberi warna bagi aktivitas batcave lainnya. Setidaknya @soakti, @syukaery dan Fritz juga menikmati diskusi-diskusi dengannya. Iya.. kita main counter-strike sampai pagi..

Kerja bareng

Meskipun ada beberapa prototype pernah kami buat, secara formal, saya kerja bareng dengan Ardy dimulai ketika saya direkomendasikan olehnya untuk menjadi atasannya di sebuah perusahaan konsultan IT di Jakarta Selatan. Proses perekomendasian itu membuat saya kagum pada pribadinya yang tulus dan sportif. Mungkin buat Ardy pemikiran-pemikiran saya yang cenderung visioner membuat saya pantas menjadi pemimpin, padahal dalam kenyataannya untuk berbagai kondisi tertentu ketekunan dan dedikasinyalah yang pantas dijadikan teladan seorang pemimpin.

Tidak lama saya bekerja di perusahaan itu, hubungan kerja kami menjadi informal lagi hingga pada tahun 2006, Ardy kembali bergabung di perusahaan saya. Salah satu kerja bareng bersamanya yang saya sangat nikmati adalah ketika kami mengerjakan sebuah program promo (web & sms) bagi salah satu produk minuman ringan yang menjadi sponsor piala dunia. Ardy begitu lincah mevisualisasikan & mengaktualisaskan ide-ide saya.. dan keseluruhan proses itu sangatlah menyenangkan..

Ardy mengundurkan diri pada tahun 2008 (setahun setelah dinyatakan menderita kanker) untuk bekerja pada perusahaan yang menurutnya dapat menjadi tempat untuk mengaktualisasikan dirinya lebih jauh lagi. Saya pikir itu perkembangan yang sangat baik untuknya meskipun tidak untuk perusahaan saya. Berbeda dengan sebelumnya, tidak ada lagi kerja bareng informal karena waktu luang Ardy sudah habis untuk keluarga dan berobat.

Kantung Collostomy

Ardy dinyatakan menderita kanker pada pertengahan 2007, tak lama setelah kami pulang dari bepelesiran gembira ke Hong Kong dan China. Kabar itu pastinya membuat mentalnya sangat drop. Begitu juga yang terjadi pada keluarganya, dan kami, teman-temannya. Namun situasi kefrustrasian itu tidak berlangsung lama, karena kita semua membangun harapan baru dari kenyataan yang ada. Saya sendiripun rajin menghasut Ardy bahwa vonis-vonis dokter terhadap pasien banyak yang tidak berdasarkan logika yang kuat dan sepertinya Ardypun sudah lebih banyak mempelajari bahwa penanganan kanker banyak yang masih pada taraf trial dan error. Semangat berjuangnya yang luar biasa tinggi itu sepertinya yang membuat dia bisa bertahan jauh lebih lama ketimbang pasien lain yang menderita penyakit sama.

Karena perlakuan medis membuat saluran pembuangannya tidak berfungsi, maka dibuatkan kantung pembuangan (collostomy) yang menyambung langsung pada ususnya dan ditempelkan pada perutnya. Pada tahun lalu kantung yang menempel bertambah satu lagi yang menjadi saluran air seni dari ginjal. Pernah ada cerita lucu dengan kantung ajaib @muswardi ini, ketika kami berdua sedang menuju Pasar Minggu menggunakan mobil saya. Ternyata Ardy tidak menggunakan sabuk pengaman ketika seorang polisi bermotor sekonyong-konyong dari kaca di samping Ardy menyuruh saya menepi. Waswas saya jadinya karena tidak membawa SIM. Tapi begitu Ardy menunjukkan kantung ajaibnya sebagai alasan mengapa dia tidak mengenakan sabuk pengaman, pak polisi tersebut langsung meminta maaf dan mempersilahkan kami meneruskan perjalanan tanpa bertanya apa-apa lagi. Tertawalah kami terbahak-bahak..

Kepribadian seorang sahabat

Jelas Ardy adalah seorang sahabat, ketika dia harus frustasi menemani saya berhitung, berkhayal bereksperimen dengan hal-hal yang menurut kebanyakan orang sebagai ‘tidak membumi’. Ardy adalah orang yang memberi encouragement dan mau menemani meskipun dia tidak paham dengan ide yang akan saya jalankan. Pada suatu hari sembari ngopi di bakoel koffie, saya bilang, “kita coba ide bagus dari satu kalimat pendek..”. Ardy bilang, “ayo kita kerjakan..”. Beberapa hari kemudian kita punya 10yearsfromnow.com. Sayangnya kami tidak menekuninya hingga kemudian nasibnya terlantar..

Ardy adalah pribadi yang realistis. Tanpa merendahkan para pemimpi yang sering hanyut seperti saya, dia selalu sadar ketika harus kembali menyikapi kenyataan dengan tindakan yang tepat dan bukan dengan mimpi. Pribadi yang santun.

Jiwa petualang pun sangat kental ketika bersamanya, meskipun tidak banyak kesempatan saya berpetualang dengannya. Makin mantap jadi sahabat karena jwa petualangnya pun bersanding rapi dengan sifat setia kawan yang kental.

Prioritasnya pada urusan keluarga adalah suatu keteladanan yang seharusnya selalu jadi palu penggetok kepala saya yang masih abai terhadap berbagai prioritas ini. Ardy tidak menasehati, tapi memberi teladan.

Refleksi

Kepergian Ardy membuat saya merasa sangat kehilangan. Membuat saya berpikir, merenung dalam mengenai hal-hal yang saya belum lakukan dalam hidup ini. Yang paling nyata adalah saya belum berbuat banyak bahkan untuk seorang sahabat yang mempunyai arti penting. Mengingatkan saya untuk melakukan hal-hal nyata pada orang-orang sekitar saya, agar mereka merasa hidupnya lebih berarti.

china trip

Selamat jalan Mas Mus.. Semoga jalan ke surganya lancar-lancar aja.. dan mudah-mudahan pada suatu hari nanti Danendra baca tulisan ini, dia ga merasa jauh dengan Mas Mus..

Beberapa link nya Ardy Muswardi

ps. maaf ya kalau tulisannya rada ngaco-ngaco dikit..

pengamen bersuara bagus di metro mini S-72

kira-kira setahun yang lalu (Agustus 2010)  saya buat video candid ini.. mungkin aksi gadis pengamen bersuara bagus ini dapat memberi inspirasi.. Silahkan dinikmati..

Revisi Peta Gempa Indonesia 2010 (terbaru)

Beberapa hari yang lalu terjadi kehebohan kecil di berbagai kalangan di Jakarta dikarenakan pemberitaan media mengenai potensi gempa berskala besar di Selat Sunda yang dapat berakibat fatal bagi daerah sekitarnya termasuk DKI Jakarta. Beberapa media bahkan menggunakan judul yang memancing kepanikan masyarakat. Beberapa ahli pun berkomentar bahwa kepanikkan adalah suatu yang wajar, karena pengetahuan masyarakat kita mengenai potensi bencana masih sangat rendah.

Terkait dengan masalah pengetahuan mengenai gempa, seorang aktivis kebencanaan, @rmzulkipli mengirimkan kepada saya ringkasan hasil revisi peta gempa Indonesia 2010. Menurutnya, ada baiknya revisi peta gempa ini tersebar luas, tidak saja hanya di kalangan pemerintah atau mainstream media saja tapi juga langsung dimiliki oleh masyarakat. Tambahnya lagi, sekedar berjaga-jaga karena banyak instansi yang sudah memiliki peta gempa terakhir tapi tidak melakukan pembangunan kesiapan apapun juga. Saya pikir, itu mungkin karena pejabat instansi tersebut tidak membaca sedikitpun dari laporan revisi peta gempa ini (begitu ga kira-kira?).

Berikut ini adalah hasil studi Tim 9 yang dibangun oleh staf khusus Presiden bidan bencana alam, Andi Arief tersebut.

Ringkasan Laporan Revisi Peta Gempa Indonesia 2010

atau download dalam pdf format di sini

Semoga kesadaran masyarakat akan potensi bencana di tanah air semakin tinggi. #bangkit #Indonesia

sejenak bersama TKI di Hong Kong

Ini cerita pendek sekali, tapi sayang rasanya kalau cerita ini tidak saya share.

Mungkin hari itu adalah hari Minggu atau Selasa tgl 1 Mei (may day), karena kami banyak berpapasan dengan banyak TKI (buruh migran) di jalan yang sedang menikmati hari liburnya. Rata-rata dari mereka selalu menyempatkan melemparkan senyuman atau menyapa kami. Mungkin karena mereka kangen tanah air dan mereka mendengar kami berbahasa Indonesia, tegur sapa ini bisa menjadi obat rindu.

Saya bersama tiga orang rekan saat itu hendak mencari sarapan sebelum kegiatan utama masing-masing dari kami. Sudah disepakati bahwa sebisa mungkin tempat makan yang dipilih adalah tempat makan yang jelas-jelas tidak mengandung babi seperti fast food khusus ayam, Karena dekat dengan apartemen tempat kami menginap, Kentucky Fried Chicken lah jadi pilihan. Namun ketika kami memasuki KFC tersebut, rasa lapar harus ditahan melihat antrian panjang. Kesabaran lebih diperlukan juga karena hampir semua tempat duduk sudah ditempati.

Satu hal yang buat kami merasa agak lebih nyaman adalah terlihat beberapa kelompok wanita yang kami duga adalah tenaga kerja informal, entah dari Indonesia atau Filipina. Seperti waktu di jalan, ternyata kelompok TKI yang sedang menikmati sarapannya pun menyapa kami. Kali ini lebih dari sekedar sapaan, mereka memberi isyarat agar kami jangan khawatir tidak mendapat tempat duduk, karena mereka menyiapkan ruang untuk kami. Setelah menerima pesanan, kamipun bergabung dengan kelompok burh migran tanah air yang baik hati tadi.

Hanya perbincangan ringan yang terjadi antara kami dengan para buruh migran ini, karena mereka sudah ditunggu teman-teman buruh migran lainnya di Victoria Park. Perbincangan ringan ini menyiratkan bahwa mereka cukup nyaman bekerja di Hong Kong ini, walaupun kadang perasaan rindu keluarga dan kampung halaman dapat membuat hati gundah. amipun memanfaatkan bincang-bincang sarapan ini untuk mendapat informasi mengenai transportasi umum (metro dan bus) serta berbagai landmark.

Ketika waktunya mereka harus pergi, merekapun pamit dan memastikan bahwa kami memahami benar arah tujuan kami hari itu agar kami tidak nyasar. Hal yang membuat kami takjub adalah mereka juga berusaha memastikan bahwa kami memiliki cukup uang untuk biaya kami berpelesiran itu.

“Mas sudah ada sangu apa belum? Kalau belum atau kurang, saya ada nih..”, kata salah satu dari mereka.

Kamipun menolak halus dan meyakinkan mereka bahwa kami membawa cukup uang dan kami akan baik-baik saja dalam acara pelesir hari itu. Pergilah mereka dan kami tersenyum..

Sejenak saat itu saya bersyukur menjadi orang Indonesia. Sepertinya keramahan, kesederhanaan, kebersahajaan dan mungkin sejumlah kata indah lainnya pantas untuk disandang oleh jiwa-jiwa Indonesia seperti para buruh migran itu. Sekaligus miris juga membayangkan betapa seringnya kebaikkan mereka disalahgunakan.