Stand by...

menjadi kepala suku (seperti don)

Semalam sebelum pertemuan keluarga besar dari Eyang Buyut, saya masih meraba-raba motivasi dari masing-masing keluarga untuk berkumpul di Bandung. Memperhatikan antusiasme yang begitu besar dari berbagai generasi di keluarga besar tersebut membuat saya berpikir bahwa motivasi mungkin beragam. Ada sekitar 180-an orang yang menyatakan akan hadir dari sepuluh keluarga besar. Saya membayangkan pertemuan keluarga yang sebagian tidak saling kenal tersebut bagaikan pertemuan para keluarga Sisilia dalam film Godfather atau film mengenai Lucky Luciano (lupa judulnya).

Pertemuan dua hari itupun akhirnya mencatat lebih dari 200 manusia yang hadir, terdiri dari beberapa generasi (baik secara tingkatan dalam keluarga maupun secara umur). Seperti yang sudah saya bayangkan, ternyata motivasi untuk berkumpul tersebut didominasi oleh generasi ke-dua (secara tingkatan keluarga adalah cucu dari buyut saya), kemudian secara umurpun motivasi juga terlihat dari generasi berumur 45 tahun ke atas. Motivasi utama adalah mempererat tali silaturahmi sekaligus juga reuni karena umumnya mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Sedangkan generasi di bawahnya terlihat bermotivasi untuk ingin tahu, ingin kenal dan seterusnya..

Yang unik pada acara tersebut adalah pada akhirnya semua bersepakat untuk melanggengkan paguyuban kekeluargaan ini dengan tujuan utama untuk mempererat tali silaturahmi. Meskipun tidak terucap secara eksplisit, tampaknya harapan untuk terjadinya organisasi modern untuk menampung aspirasi dan melaksanakannya muncul dalam kepala-kepala peserta yang hadir tersebut. Betul, potensi sudah terlihat dan rasionalitas dari hadirin sudah bekerja..

Bagian yang mirip dengan film Godfather itu adalah ketika masing-masing keluarga besar melalui perwakilannya menyatakan persetujuannya terhadap kepemimpinan saya sebagai pengurus Ikatan Keluarga tersebut… Mereka satu per satu berdiri dan menyatakan dukungannya atau pernyataan ketidak beratan dengan keputusan. Saya pikir ini seperti sudah bukan keluarga Jawa lagi.. tapi ya mungkin semuanya sudah berubah…

Masih ada dewan pengarah yang akan dibentuk untuk memberikan arahan kepada pengurus. Juga komisariat yang menjadi wakil pengurus di masing-masing keluarga besar.

Pertemuan yang tidak direncanakan serius itu dapat dikatakan sukses secara umum, baik dari sisi jumlah peserta, ketepatan waktu penyelenggaraan, akomodasi dan transportasi, dan acara.. meskipun tidak ada panitia khusus untuk acara tersebut.. Hanya ada beberapa orang dengan tekad dan jiwa besar untuk mewujudkannya.

Pada malam hari setelah acara selesai, Erick, adik saya bertanya, “gimana rasanya sudah jadi Don?”. Saya masih merenung.. sepertinya aspirasi yang belum diungkapkan masih banyak dan terus dibangun…

jalan-jalan akhir tahun 2008 (bag. ke I)

Setelah tertunda 2 hari dan dengan terpaksa harus menerima hangusnya tiket pesawat, akhirnya pada tgl 2 Desember saya berangkat ke Kuala Lumpur untuk memulai petualangan pendek mengunjungi negara-negara tetangga (Asia Tenggara). Proses keberangkatan itu sendiri cukup kisruh karena memang sebelumnya kita sudah menjadwalkan tapi sekonyong-konyong pekerjaan menuntut kita untuk menunda, tentunya makin kisruh karena kebiasaan saya mengerjakan segala sesuatunya pada last minute.

Rekan petualangan kali ini adalah Boyan yang dengan baik hati membangun rencana termasuk jadwal dan mengatur seluruh prosesnya dengan rapi termasuk urusan dana (saya tidak perlu nabung :p). Base yang kita pilih adalah Kuala Lumpur, selain karena Air Asia berpusat di sana juga karena ada seorang teman baik yang tinggal di sana di mana kami juga merencanakan untuk menghabiskan banyak waktu bersamanya. Tapi rencana ini berubah karena penundaan keberangkatan dan sesuatu hal yang membuat mood saya berubah drastis. Kami hanya tinggal satu malam di Kuala Lumpur dan langsung menlanjutkan perjalanan ke Haad Yai (Hat Yai), Thailand.

Sesuai dengan rencana, kami lebih banyak menggunakan fasilitas transportasi darat agar lebih banyak bisa menikmati perjalanan dan berinteraksi dengan warga lokal. Perjalanan ke KL – Hat Yai kami tempuh menggunakan bis yang relatif nyaman (meskipun Boyan merasa sebaliknya) selama 11 jam. Berhenti makan sekali di dekat perbatasan Malaysia – Thailand, kami juga menemukan warung Indonesia (muslim) di sana.

Tiba di Hat Yai pada pagi hari, kami memutuskan untuk langsung pesan tiket bis ke Bangkok pada sore harinya. Seharian kami habiskan untuk berjalan-jalan di kota tersebut sambil mampir sedikit ke warnet dan makan siang. Kota ini sebenarnya cukup menarik untuk disinggahi. Andaikata kita mengalokasikan lebih banyak waktu, saya pasti akan bermalam dan menghabiskan lebih banyak waktu di kota ini. Keunikan kota ini antara lain desbabkan terjadinya pembauran beberapa budaya sekaligus, yaitu budaya Muslim, Buddha dan tradisional Thailand. Tapi yang paling berkesan buat saya adalah berkeliarannya angkutan umum yang dipanggil dengan istilah Tuk-Tuk. Armada ini bukan seperti rickshaw atau Tuk-Tuk di tempat lain karena Tuk-Tuk yang ini rata-rata menggunakan mobil tahun 70-an dengan berbagai merk, kalau di Indonesia mereka terkenal dengan istilah Trungtung.. Hebatnya armada ini adalah hampir semuanya terawat baik, jadi tidak menghasilkan polusi gila-gilaan (padahal kendaraan tua) dan cantik (antik) karena bersih-bersih semua.

Tuk Tuk

Kami berangkat ke Bangkok sekitar jam 3 siang, menggunakan bis yang ternyata biasa-biasa saja setelah sebelumnya kami berharap mendapat bis yang bagus. Ga jelek banget, ada AC tapi agak bau dan disetel video lagu-lagu Thailand yang susah untuk kami nikmati. Sepanjang jalan kami melihat banyak sekali poster dan baliho yang banyak menampilkan gambar Raja. Akhirnya kami paham, ternyata poster-poster tersebut ada dalam rangka memperingati ulang tahun raja Thailand.

bersambung…

note: sebenarnya tulisan ini dibuat pada bln Maret tgl 7, jauh setelah jalan-jalan akhir tahun itu sendiri.. Saya sepertinya juga sudah banyak lupa, termasuk gaya penulisan saya sendiri. :p

akhirnya ikutan pesta blogger 2008

Hari ini adalah hari istimewa buat para blogger Indonesia, terutama yang tinggal di Jakarta. Istimewa karena hari ini adalah hari terakhir rangkaian acara Pesta Blogger 2008, di mana sejumlah besar blogger senior dan pemula bercampur baur ngumpul dan berbagi di gedung BPPT, Jakarta. Saya hadir… ternyata blogger ogah-ogahan seperti saya juga boleh hadir.. Hebat!!

Sayangnya saya tidak bisa hadir dari awal karena ada kewajiban mengantar si hijau berobat di cempaka putih… dan sayangnya juga saya tidak bisa mengikuti acara hingga selesai karena jadwal sudah di-reserve oleh teman jauh-jauh hari.. Tapi senang bisa hadir di acara ini.

Saya datang dengan tujuan utama merasakan nuansa crowd dari blogger Indonesia.. dan pastinya saya dapatkan itu. Sampai di gedung BPPT jam 12 siang pas jam nya makan siang, rangkaian acara sebelumnya jadi terlewatkan. Pada acara makan siang inilah, saya jadi dapat kesempatan untuk melihat siapa saja yang hadir… dan tentunya bertemu teman-teman.. senangnya..

Entah mengapa saya kurang begitu tertarik untuk ikut dalam Breakout Session discussion yang terbagi hingga 7 (atau 8?) pembahasan yang masing-masing dipandu oleh pakar di bidangnya masing-masing. Karena ogah-ogahan, jadinya nggak kebagian tempat duduk. Akhirnya ikut session Blog for your Brand yang dibawakan oleh Pak Nukman dari Virtual Consulting. Saya duduk di bangku paling depan sebelah kiri (agak jauh) dan membuat Pak Nukman hampir selalu membelakangi saya.. Karena pak Nukman dan pembicara lain tidak menggunakan Microphone, maka suara beliau hanya terdengar sayup-sayup.. “saya ganteng..”, katanya.

Setelah acara rehat kopi adalah sesi penarikan doorprize (yang mungkin ditunggu-tunggu). Sesi ini cukup panjang dan agak membosankan buat saya.. (mungkin karena saya nggak begitu mengenal crowd). Tapi yang pasti MC nya suaranya ga enak.. (terlalu keras) dan bunyinya kebanyakan angka-angka nomer doorprize itu. Acara kemudian dilanjutkan dengan ringkasan Breakout Session yang masing-masing dibawakan oleh pembicara pada Breakout Session atau wakilnya. Nah sayangnya lagi saya hanya ikut sedikit pada sesi ini, karena si teman yang punya janji jam 5 sudah telepon dan nanya, “udah nyampe mana loe pic?”. Bergegaslah saya meninggalkan lokasi Pesta Blogger tersebut, langsung meluncur menuju SCBD.

Meskipun tidak banyak kenal teman tersebut sebagai blogger tapi lumayan lah bikin saya nggak terlalu bengong di acara tersebut. Beberapa teman kampus dulu ternyata juga hadir di situ, seperti Budi Jompa, Nila Tanzil, dan Andi Darmawan plus ada satu lagi yang dikenalkan oleh Nila yaitu Peppy yang ternyata yunior saya juga. Juga beberapa teman lama seperti Boyan, Arief Ahdja, Ayu Bulandini, Boy Avianto, dan Aria Rajasa

Jakarta Twitter User Group (JTUG) hadir dan memberi kesan tersendiri pada Pesta Blogger 2008 ini. Hadir dengan pin JTUG, para pengguna twitter ini aktif mengikuti acara dan bergerak dalam satu kelompok. Adalah Alfa yang berinisiatif menyiapkan kostum khusus JTUG untuk Pesta Blogger ini, dan hal inilah yang menjadikan JTUG memberi kesan tersendiri, hingga media massa pun menyempatkan mengambil photo pose unik dari JTUG (alfa). Selain Alfa, JTUG yang hadir antara lain: gueamu (Amu), vodaschuler (Purba), aulia, budip (Budi Putra), deon, puspa, rampok, asil (Lisa S), neofreko (Toni) dan sofiakartika.

Laporan lebih bagus daripada posting ini bisa dilihat di post dari para blogger yang hadir hari ini:

Pesta Blogger ini adalah yang pertama buat saya, bukan karena saya baru saja ngeblog.. tapi karena tahun lalu saya tidak terhubung dengan baik dengan para blogger yang lain sehingga tidak terupdate acaranya.. Tahun ini, karena sudah berteman dengan para blogger yang kebetulan juga sesama pengguna Twitter, Facebook dan Plurk.. maka kabar Pesta Blogger ini tidak gampang terlewatkan..

Sekilas tapi saya yakin Pesta Blogger ini hebat dan sangat positif. Aura positif nya terlihat jelas. Salut untuk para panitia, sponsor, pemerintah dan pastinya para blogger!

sepuluh hal mengenai pico

Leonnie FM telah memasukkan saya dalam daftar yang harus menulis sepuluh fakta mengenai diri saya sendiri. Permintaan Leonnie tersebut adalah bagian dari program viral blog post yang saya kurang tahu juga siapa yang memulainya. Berikut sepuluh hal mengenai saya:

1. saya lahir prematur di sebuah asrama tentara (barak) di Dajeuhkolot, Bandung Selatan. Alkisah proses kelahirannya hanya dibantu oleh seorang pembantu, menurut mereka saya keluar sendiri secara sukarela sekitar jam 4 pagi. Bapak saya sedang berada di Jakarta untuk menjenguk keponakan yang menurut jadwal akan lahir pada hari tersebut. Ada cerita lucu: Karena yang beliau tunggu tidak kunjung hadir maka bapak saya pulang kembali ke Dajeuhkolot untuk ikut apel pagi. Ketika tiba di Djeuhkolot pada subuh hari, beliau senang menerima ucapan selamat dari rekan-rekan dan anggota peleton yang dipimpinnya, dia berpikir akan naik pangkat… Setelah tiba sampai di kamar asrama, barulah dia paham pemberian selamat itu.. saya telah hadir untuk makin menceriakan (merepotkan) hidupnya..

2. Memandang kehidupan dan alam semesta ini lebih daripada sekedar interpretasi terhadap ajaran agama. Bukan hanya buku yang dibaca, tapi lebih kepada pengalaman batin dan spiritual yang benar-benar memperkaya. Beberapa paranormal secara explisit menyatakan bahwa saya mempunyai kemampuan lebih yang belum saya optimalkan, termasuk dalam hal pengobatan, kanuragan dan lain sebagainya. Beberapa ritual spiritual sebagai “orang jawa” keturunan penguasa Mataram pun pernah saya jalani, seperti semedi di Parang Kusumo dan lainnya.

3. Semasa masih kanak-kanak, saya adalah penakut dan saya malu bila itu terlihat oleh orang lain. Saya sangat takut melihat ular karet, ketinggian, kegelapan, kolong ranjang dan segala bentuk tidak terdefinisi. Mungkin hanya imajinasi saya yang berlebihan sehingga menciptakan ketakutan yang berlebihan juga. Saya benci hal tersebut hingga setiap kali saya berusaha melawan semua ketakutan yang ada dengan kepasrahan. Sekarang ini saya bisa mengatasi semua perasaaan takut yang berlebihan tersebut, termasuk kematian dan kehilangan.

4. Pada dasarnya Pico adalah pemalu dan pendiam. Saya tidak mudah berkomunikasi kepada orang lain, apalagi yang belum saya kenal. Akibatnya saya jarang sekali terlibat dalam keramaian atau kumpulan orang dan lebih sering menyendiri. … dan melamun..

5. Adalah manusia yang jauh dari disiplin dan lamban. Betul sekali.. Meskipun saya termasuk orang yang cukup bertanggung jawab, namun saya seringkali gagal karena tidak ada disiplin dan selalu menunda pekerjaan. Begitu juga disiplin untuk fokus membuat saya lamban. Saya tidak pernah tuntas menyelesaikan pscho-test (test IQ).

6. Pacaran pertama kali pada umur 27 tahun. Sejak itu saya sudah berpacaran dengan beberapa perempuan… dan tetap belum menemukan wanita yang menjadi idaman hati dan mau hidup bersama hingga akhir hayat. (updated – Jan 2010).

7. Sangat senang berpikir. Sebuah bentuk kecanduan butuh saluran. Kadang disalurkan ke dalam game strategy, kadang disalurkan untuk menganalisis hal-hal aktual, kadang disalurkan untuk memecahkan berbagai masalah dalam pekerjaan, dan kadang disalurkan untuk menganalisis hal-hal yang tidak penting.

8. Kembali ke masa kecil. Cita-cita saya yang paling konsisten semasa kecil adalah menjadi supir bus. Ini diilhami dari seringnya ikut papa berpergian antar kota menggunakan bus, dan papa saya selalu memilih tempat duduk di samping atau di belakang supir bus. Saya senang sekali memperhatikan supir bus dan jalanan, akibatnya berbagai barang berbentuk mirip dengan setir jadi mainan favorit saya.

9. Sangat open minded. Meskipun tidak semuanya dinyatakan dalam pernyataan sikap ataupun tindakan, saya berusaha menerima semua pandangan yang terlontar dan tidak terlontar, maupun perilaku dan tindakan dengan alasan paling anehpun. Dunia imajinasi saya pun secara rutin mensimulasikan berbagai hal yang paling ekstrim menurut pendapat orang, bermain dengan logika dengan berbagai peran. Pada saat itu saya selalu berusaha untuk “bebas nilai”.

10. Sangat mengagumi ciptaan Tuhan. Tidak perlu penciptaan alam semesta sebagai analoginya, cukup dengan bangunan organ tubuh kita atau yang lebih kecil lagi yaitu otak kita. Tuhan menciptakan otak dengan kompleksitas fungsi yang amat tinggi yang sepertinya tidak akan pernah disamai oleh siapapun juga. God is great!

Demikianlah sepuluh hal mengenai pico yang akhirnya dapat diungkapkan setelah tertunda 22 hari, (terhitung sejak tanggal penugasan yaitu 8 Oktober 2008) atas alasan yang dibuat-buat maupun tidak (namanya juga procrastinator). Semoga diterima dengan baik oleh Ibu Leonnie.

Karena penugasan ini bersifat viral, maka saya juga meneruskan tugas ini kepada Regina dan Kania… dua teman yang berkenalan di plurk dan ngeblog juga. Saya usul agar postingnya lebih kreatif, misalnya menggunakan image atau video yang sudah menjelaskan hingga tak perlu bertele-tele kayak posting ini. Semoga yang bersangkutan menerima penugasan ini dengan baik dan kemudian meneruskannya kepada rekan-rekannya. Terima kasih.

ngebut sebelum Lebaran

Awalnya saya terinspirasi oleh plurk dari mas Boy Avianto yang mengungkapkan keinginannya untuk menjelajah Jakarta karena jalanan Jakarta sudah relatif sepi karena ditinggal mudik sebagian penduduknya. Nah hasrat saya untuk ngebut jadi bangkit kembali setelah lama nggak ngebut bareng Ivan, yang sekarang mendapat hambatan banyak untuk ngebut lagi.

Untuk memulai lagi sesuatu yang sudah lama kita tidak lakukan tidak semudah yang diucapkan, pada kasus ini bangun pagi adalah tantangan terberat. Kenapa mesti pagi? Bukankah jalanan Jakarta sedang kosong-kosongnya?

Saya merasa bahwa yang paling aman tetap menggunakan modus dan track yang sama yaitu Jagorawi, dengan range waktu pk. .05.00 – 08.00. Saya bilang aman karena meskipun disebut jalanan Jakarta kosong bukan berarti jalanan Jalarta benar-benar kosong. Pada kenyataannya masih banyak motor-motor dengan tujuan mudik berkeliaran pada subuh hari tadi. Harus Jagorawi untuk mencapai top speed, yang pastinya akan sangat sulit dicapai pada track pendek apalagi ada gangguan. Subuh hingga jam 8 pagi adalah waktu yang paling sepi di jalan, khususnya jalur Jagorawi ke arah Jakarta dari Ciawi.

Berikut laporannya:

Saya bangun terlambat, pk 05.15, langsung mengumpulkan nyawa dan bergegas mempersiapkan si Hijau. Tepat jam 05.30 saya berangkat dari rumah, track dari rumah sampai ke pintu tol Lebak Bulus jadi ajang pemanasan untuk si Hijau. Dari Lebak Bulus saya mulai memacu si hijau hingga ke pintu tol Cibubur, yang kami tempuh tidak lebih dari 10 menit. Pada track ini saya juga mempersiapkan kamera pocket Olympus untuk siap merekam dalam kondisi tidak stabil, yaitu merubah setting otomatis untuk sport shots.

ta bisa mencapai top speed

Setelah masuk tol Jagorawi saya mendapati bahwa jalanan sangatlah tidak kosong seperti yang saya bayangkan. Sepertinya banyak juga keluarga yang merencanakan perjalanannya dimulai dari subuh untuk menghindari macet. Saya pun nyadar bahwa dalam kondisi seperti ini kami tidak akan bisa mencapai kecepatan tertinggi, jalanan terlalu ramai dan terlalu banyak mobil yang berjalan lambat (mereka pikir mereka sudah ngebut).

Ketika mendekati Sentul, saya baru menyadari bahwa bensin sudah menipis (liat image deh) karena memang saya tidak merencakan dengan baik perjalanan ini. Terpaksa deh kami mampir isi bensin di SPBU Sentul, dan ternyata harus antri bersama para pemudik. Tjapeee deech..

antrian panjang dan penyerobot di pintu tol ciawi

Bensin hanya diisi setengah tengki saja, dengan harapan tidak menambah beban si Hijau (bener ga siih?). Keluar dari SPBU Sentul kami langsung ngebut lagi, tapi itu tidak berlangsung lama karena kami sudah tiba di pintu tol Ciawi. Cilakanya antrian di pintu tol Ciawi ini ternyata jauh lebih panjang debandingkan antrian SPBU tadi. Sebel jadi muncul karena sebagian dari para pengantri melakukan manuver-manuver serobotan demi mencapai pintu tol secepatnya.

Jadi dech kami menunggu sekitar 15 menit sampai mendapat giliran untuk membayar tol.

Selepas dari tol Jagorawi, saya sempet ragu untuk naik ke puncak atau arah lain, karena sudah terbayang betapa macetnya arus ke puncak. Karena si Hijau tidak bisa menunggu saya berlama-lama dalam keraguan maka saya putuskan untuk mengarahkan si Hijau ke Rancamaya saja, dengan harapan dapat menikmati sedikit pemandangan indah di pagi hari.

exclusive spot

Sangatlah tidak salah untuk memilih Rancamaya. Mungkin karena orang sudah banyak yang bersibuk dengan persiapan lebaran atau mungkin masih berpuasa, jadi sedikitlah orang yang berminat membanjiri arena golf Rancamaya. Si Hijau saya titipkan di tempat parkir yang nyaman sedangkan saya ngopi (tidak puasa) di Club House nya Rancamaya (06.35)

Harus diakui bahwa Rancamaya Country Club memang ditata rapi dan punya banyak spot bagus untuk menikmati keindahan alam. Jadilah saya jepret beberapa kali keindahan tersebut. Ini saya sertakan juga beberapa hasil jepretan saya.

Rancamaya View

Rancamaya view

Setelah dua cangkir kopi dan beberapa jepretan, saya memutuskan untuk bergerak kembali ke Jakarta, mengingat jam Dark Knight sudah menunjukan pk. 07.20 dan Jagorawi pastinya sudah akan disemuti lagi oleh mobil-mobil lamban. Ya kami bergegas, tapi tidak melupakan pose narsis..

pengemudi belum mandi pagi

Seperti tak rela meninggalkan udara segar dan pemandangan yang indah bersih, kami berjalan perlahan-lahan keluar dari komplek Rancamaya. Dalam benak saya, “asyik banget nih pastinya kalau bisa sama pacar di pagi hari di sini” :) . Melintas perempatan Ciawi jam 07.38.

tancap gas selepas pintu tol

Seperti yang kami harapkan, suasana ketika memasuk tol Jagorawi sangatlah lengang. Hanya ada dua-tiga mobil yang mengarah ke Jakarta. Tiba di pintu masuk tol Ciawi jam 07.41, kami langsung berusaha mencapai top speed. Kamera sudah saya set kembali untuk merekam speedometer pada saat kecepatan tertinggi tercapai. Kenyataannya sangatlah tidak mudah untuk melakukannya, karena saya pun tidak ingin hilang konsentrasi dari track. Saya pikir sebenarnya kita sempat mencapai 225 km/h tapi tidak dapat shot yang bagus.

Sepanjang tol Jagorawi kami dua kali melewati polisi jalan raya, satu naik motor besar, satu lagi naik Galant. Berbeda dengan kelakuan saya sebelumnya, kali ini saya tidak mengurangi sedikitpun kecepatan. Nggak tau juga kenapa sopan santun itu

top speed yg berhasil terekam

bisa terlupakan. Tidak ada juga mobil yang berusaha menyaingi kecepatan kami selama perjalanan (yang selalu membuat saya wondering: kenapa ya?).

Kami keluar di pintu tol Kampung Rambutan sekaligus masuk ke tol JORR. Waktu tempuh selama di tol Jagorawi tersebut adalah 7 menit. Catatan waktu tersebut bukan rekor, begitu juga kecepatan tertinggi yang bisa dicapai. Rekor kecepatan yang bisa saya capai sebelumnya adalah 235 km/h. Menurut teknisi Audi, untuk mendapatkan kecepatan yang lebih, kita harus melepas setting pembatas kecepatan elektronik pada ECU (yang saya belum berminat). Namun catatan hari ini mengindikasikan bahwa si Hijau masih relatif sehat walaupun bukan pada kondisi yang optimal.

Kesimpulan ngebut pagi tadi: saya senang dan bersyukur. Meskipun bukan balapan tapi rasanya segar bisa melepaskan hasrat dan adrenalin setelah sekian lama keinginan ini tidak tercapai. Harapan saya untuk acara ngebut berikutnya adalah bisa mendapatkan teman (navigator) yang mau (dan berani) merekam acara ngebut ini. Oh , bagi yang belum mengenal si Hijau… bisa dilihat profilnya di sini.

agustus = liburan

Dulu, waktu masih di bangku sekolah/kuliah, kita akan senang sekali kalau sudah mendekati bulan-bulan Juli dan Agustus, karena pada saat-saat ini kita dapat menikmati liburan. Artinya lepas dari rutinitas ke sekolah atau ke kampus, dan artinya juga kesempatan buat kita jalan-jalan berlibur ke luar kota ataupun ke luar negeri.. menghabiskan (baca: menikmati) masa liburan itu.

Sekarang, saat kita sudah bekerja, umumnya kita hanya dapat jatah cuti terbatas yang jauh lebih sedikit dibanding masa liburan kita waktu masih di bangku sekolah. Lebih parah lagi buat para pengusaha pas-pasan seperti saya, yang belum bisa meninggalkan (baca: terobsesi) pekerjaan demi kelangsungan usaha. Liburan seperti sesuatu yang sangat mewah karena keterikatan dengan jadwal-jadwal dengan klien atau kebutuhan lainnya.. Ya kemalasan saya dan ketidak rapian dalam manajemen waktu makin memperparah…

Adalah tantangan setiap enterpreneur untuk mencapai tujuannya, yaitu selalu siap merubah paradigma terutama dengan ketergantungan dengan pihak lain. Sayapun menyadari kekurangan dalam hal manajemen waktu, termasuk juga akibatnya (atau sebab?) tidak merencanakan berlibur selama bertahun-tahun.. Siap untuk merubah paradigma bahwa pengusaha tidak boleh berlibur sebelum 1 sudah bulat. Saya memutuskan untuk jauh lebih fleksibel dalam aturan itu… karena yang lebih penting dari usaha atau bisnis adalah hidup itu sendiri…

Jadilah saya dalam bulan Agustus ini jalan-jalan… ke Solo dan ke Bali…